Blog ini betul-betul kliping. Artinya mengumpulkan berbagai tulisan media yang sayang untuk dibuang, tanpa mengubah apapun. Saya mengundang teman-teman yang kebetulan sudah menekuni kliping dengan tema apapun untuk bergabung. Bisa dengan menyumbang kliping ke blog ini, atau menghubungkan blog kliping mu dengan blog ini.

Membangun Kembali Kepercayaan Diri

Ibu Y, 14 tahun menikah, memiliki 3 anak, menulis surat tentang kebingungan dan kepedihan dalam hubungan dengan suami. Ada pesan yang bertolak belakang, yang bila kita pilah-pilah dan susun kembali, sepertinya menjadi kumpulan "puzzle" yang bermakna dan semoga dapat membantu Ibu Y memahami persoalan dengan lebih baik.

Suami orang baik

"Sebetulnya suami saya orang baik, supel, ramah, suka menolong. Perkataannya manis, royal dalam mengeluarkan uang, kadang iri, ingin menjadi teman ketimbang istri. Suami saya lebih mementingkan pertemanan dari-pada saya sebagai istrinya. Dulu, sewaktu kami berteman, saya merasa nyaman karena ada teman yang mau mendengar curhatan saya."

Di bagian lain: "Suami saya orang yang bertanggung jawab, sayang anak, dan setia. Walaupun sedang ada masalah, suami selalu pulang tepat waktu."

Menyakitkan

Setelah menjadi suami semua berubah. Sekarang, suami gampang tersinggung, pendendam, selalu menyimpan kebencian, Kata-kata sayang dan cinta berganti kata-kata menyakitkan, merendahkan, bahkan sampai merendahkan keluarga saya.

[+/-] Selengkapnya...

Kupu-kupu Malam

Saya berdiri menunggu taksi di Jalan Hayam Wuruk di bilangan Jakarta Kota. Waktu menunjukkan nyaris tengah malam. Saya baru selesai kerja lembur dengan salah satu klien.
Saat sedang menunggu taksi, saya menyadari sepenuhnya beberapa "wanita malam" tengah berdiri berjajar, sedang menjajakan diri. Kawasan itu memang terkenal dengan "jajanan" tengah malamnya.

Nurani saya tertawa menyindir pada malam yang dingin dan berangin itu. "Mirip lo beberapa tahun lalu, ya, Jeung. Hi-hi-hi.... Bedanya, lo enggak di tepi jalan."

Saya kesal kalau sudah begitu. Maka benar adanya bahwa manusia tak bisa bersembunyi dan lari dari nuraninya sendiri. Ke mana saja pergi, di situ ia akan bersuara. Kata teman saya sih bisa dimatikan. Mungkin saya kurang keras mencoba mematikannya.

Calon kupu-kupu

Sambil menanti taksi, saya ditemani klien saya. Ia menganjurkan berhati-hati. Saya langsung berkomentar, "Enggak papa. Udah biasa." Udah biasa jualan diri, maksudnya.

Malam itu adalah kali pertama saya berada dekat dengan pelacur jalanan. Yang dekat selama ini hanya yang berada di papan atas, itu pun yang marah disebut pelacur karena tak mau disamakan dengan yang di jalanan meski kelakuannya yaaa... sebelas dua belas dengan yang berjejer di kiri-kanan saya malam itu.

Taksi menembus malam, hujan di luar sedikit merintik. Saya menyalakan iPod sambil mendengar "Merindu"nya Pingkan Mambo. Lagu menyayat hati yang membuat saya rindu pada selingkuhan masa lalu. Saya menirukan kalimat dalam lagu itu. Tuhan kembalikan dia kepadaku, karena aku tak bisa berada jauh darinya....

Sepanjang telinga mendengar suara Mbak Pingkan yang khas yang amat saya sukai, pemikiran saya melayang kepada wanita penjaja diri malam itu. Saya pernah dikatai pelacur oleh teman saya karena perselingkuhan saya. Waktu itu saya merasa bukan pelacur. Itu beda. Saya orang berpendidikan, tak berniat memiliki tabiat macam itu. Teman saya menimpali. "Orang pendidikan kok kayak kamu. Pendidikan opo. Kamu pasti juara pendidikan jasmani waktu di sekolah." Saya diam saja.

Saya juga merasa bukan pelacur karena kalaupun berselingkuh saya tidak dibayar seperti kupu-kupu malam, cash and carry. Saya berselingkuh karena mencintai, bukan sekadar nafsu.

Kalaupun mendapat hadiah waktu ulang tahun, waktu Natal, waktu memperingati setahun masa perselingkuhan alias pacaran dalam kegelapan alias lewat pintu belakang, buat saya itu bukan imbalan dari kegiatan di atas ranjang karena aktivitas itu dilakukan dengan rasa cinta.

Teman saya menyambar bagai petir, "Lo tidur dengan rasa cinta. Emang doi pakai cinta? Kalau selingkuhan lo punya cinta, dia enggak bakal selingkuh. Berselingkuh itu karena sudah tak ada cinta. Lo itu cuma saluran untuk buang keringat. Nanti setelah sama lo doi ya selingkuh di tempat lain. Apa bedanya ama pelacur?" Saya tetap kekeuh. Teman saya masih terus berkicau, "Dan lo bilang lo cinta? Ha-ha-ha.... Cinta itu enggak ngegangguin punya orang lageee. Itu kupu-kupu namanya, yang enggak pernah mikir panjang, asal lerbang nempel di mana saja."

Ia masih terus bersuara "Dan lo, Neng. Enggak cuma malam. Pagi ya, siang juga ya." Saya masih tetap kekeuh. Katanya yang membedakan pelacur dan manusia seperti saya yang berselingkuh adalah karena persoalan ada dan tidak adanya cinta. Teman saya menyeletuk lagi, "Kalau ada istilah kejahatan kerah putih, jij bukan cuma putih. Polkadot dan pink pula."

Calon bos kupu-kupu

Komentar macam itu tak membuat saya menyerah kalah, karena saya berpikir saya tak menjajakan diri di jalan raya. Kemudian teman saya bersuara lagi sudah mirip nurani saya sendiri. "Elo emang gak di tepi jalan, tetapi di ruang khusus hotel berbintang sambil dah nek, dah nek Sama-sama tertawa dalam harum mewangi yang enggak ada bedanya, bukan? Bukannya elo sendiri malah pernah melakukan di ketinggian tiga puluh enam ribu kaki?" Ini kalimat penutup yang disemprotkan ke muka saya. "Cuma beda eksekusinya, goblok. Eh... salah kok goblok. Beda eksekusinya, cur." Saya membalas. "Kue cucur, kaleee..."

Sebelum tiba di rumah, masih di dalam taksi dan diselimuti gelapnya Jakarta, saya senyum-senyum sendiri. Saya tersenyum mengingat pembicaraan dengan teman saya itu, mengingat begitu banyaknya perselingkuhan yang saya buat, sampai saya tak lagi bisa membedakan antara benar dan tidak benar.

Mungkin saya tak dibayar cash and carry, tetapi apa benar kalau pasangan saya menjemput dengan mobil mewah dan membelikan tas bermerek H, G, dan P sampai Z itu tidak sama saja dengan cash and carry yang diterima pelacur jalanan? Saya ingat teman saya bilang begini, "Beda waktu pengirimannya saja."

Terus saya menanyakan diri sendiri, apakah waktu saya berselingkuh selain ada rasa cinta
yang salah alamat itu, sejujurnya ada niat ingin "menjarah" kekayaan pasangan gelap itu? Jadi cinta saya tak murni-murni amat, ada saja alasan "kesejahteraan lahir" di balik mencintai sese-orang. Nurani saya yang menjawab, "Orang kayak lo kok mau miskin."

Ada sebuah periode di mana saya merasa bukan pelacur, tetapi sedang menikmati masa pacaran. Kan sah-sah saja, gonta-ganti pacar, bahkan punya pacar lebih dari satu pada waktu bersamaan. Buat saya itu prestasi. Pacaran beda dengan ludau sudah menikah. Beda beban dosanya, maksud saya.

Teman saya menyambar, "Yaaa memang. Pacaran sih... tetapi sambil ditiduri bergantian. Opo bedone mbek pelacur?" Saya menyambar balik dengan emosional "Yo bedo no." Meski setelah mendengar komentar teman itu saya dibuat bingung, istilah playboy sebuah penghormatan atau pelecehan. Teman saya berkomentar lagi. "Kalau di situasi kecil macam pacaran aja lo enggak bisa setia, lo juga enggak bakal setia di situasi lebih besar seperti pernikahan."

Dalam masa saat mata dan nurani menjadi gelap itulah saya berpikir cinta itu tak perlu ada, yang penting self satisfaction tercapai. Nurani saya langsung menjerit saat itu, lebih keras dari suara teman-teman saya, "Itu kamu naik kelas namanya. Dari pelacur menjadi germo."

SAMUEL MULIA Penulis mode dan gaya hidup
Kompas Minggu, 29 November 2009

[+/-] Selengkapnya...

Fungsi Lain dari Tas

Banyak orang yang memilth tas berdasarkan mereknya saja. Padahal selain merek, bentuk tas pun perlu diperhatikan. Sebab, memilih bentuk tas yang tepat dapat memperindah penampilan Anda. Bahkan, beberapa bentuk tas dapat membantu mengatasi rasa tidak percaya diri Anda terhadap salah satu bagian tubuh. Berikut ini adalah beberapa tipe tubuh dengan jenis tas yang cocok.

  1. Pertama, memiliki badan dengan tipe tinggi dan kurus bagi beberapa orang membuat kurang percaya diri. Mereka terkadang ingin terlihat lebih berisi. Nah, memilih tas yang cocok dapat mengatasi hal tersebut. Bagi Anda yang memiliki jenis badan seperti ini, gunakanlah tas yang berukuran sedang. Jika Anda suka memakai tas dengan model slempang, pilih tas yang panjang talinya sampai ke pinggang Anda. Jika talinya pendek, usahakan tas tersebut berada tepat di bawah lengan Anda. Dengan demikian, tas tersebut akan member! ilusi seakan-akan tubuh Anda padat berisi.
  2. Kedua, bagi Anda yang memiliki tipe badan yang pendek dan ramping, pilihlah tas dengan ukuran yang standar atau kecil. Sebaiknya Anda tidak menggunakan tas yang berukuran besar. Sebab, hal ini akan membuat tubuh Anda semakin terlihat kecil dan seakan-akan tenggelam "ditelan" tas.
  3. Ketiga, salah satu bentuk badan yang menjadi perhatian banyak orang adalah pada bagian pinggul. Jika Anda memiliki tipe badan dengan pinggul yang berukuran agak besar tentunya agak terganggu jika menjadi perhatian banyak orang. Untuk mengatasinya, Anda dapat menggunakan tas yang berukuran cukup besar dengan model menggantung agar dapat menutupi pinggul Anda.
  4. Keempat, tas juga dapat menjadi solusi bagi Anda yang merasa tubuh bagian atas terlalu besar. Jika Anda ingin menonjolkan bagian bawah, pilihlah tas dengan model tali yang panjang atau tas tangan. Selain itu, jangan ragu juga untuk memilih tas dengan ukuran yang besar.
  5. Kelima, bagi sebagian orang, memiliki badan dengan ukuran yang agak besar menjadikan mereka tidak dapat tampil percaya diri. Apaiagi jika mereka menyukai model tas dengan model slempang. Tidak perlu khawatir, Anda dapat mengantisipasinya dengan menggunakan tas-tas yang berukuran lebar juga agar terlihat sesuai.

Selain itu, apapun jenis badan Anda, selama tampil percaya diri maka tas apapun yang Anda gunakan akan terlihat cocok.

[INO] Kompas Minggu, 29 Nov 2009

[+/-] Selengkapnya...

Tingkatkan Kreativitas Anak

Memiliki anak yang kreatif adalah dambaan setiap orangtua. Anak-anak yang kreatif memiliki cara berpikir yang unik, karena itu mereka dapat menjadi pemecah masalah yang baik. Namun, kreativitas bukan berarti seorang anak berhasi! mencapai suatu solusi saja, tapi sekaligus proses dan cara berpikir yang dimilikinya. Kabar baik bagi para orangtua adalah kreativitas anak dapat dibentuk sejak dini. Beberapa cara sederhana berikut dapat menjadi masukan bagi Anda yang ingin meningkatkan kreativitas anak.

  1. Pertama, percaya pada kemampuan anak. Tunjukkan bahwa Anda percaya pada kemampuan mereka, maka hal itu akan menjadi fondasi yang kuat dalam pembentukan kreativitas. Sebagai contoh, jika anak mewarnai rumput dengan warna biru, daripada menunjukkan ketidaksetujuan, lebih baik Anda bertanya dan memberi komentar positif, Hal ini akan merangsang anak untuk terus berpikir kreatif.
  2. Kedua, beri dukungan pada anak. Orangtua hendaknya mendukung keinginan anak untuk ber-kreasi selama hal itu baik. Beri kebebasan untuk menentukan apa yang ingin dilakukannya dan doronglah anak untuk mencapai yang ingin diraih-nya tanpa memaksanya. Misalnya anak Anda hobi melukis dan ingin ikut lomba lukis di sekolahnya, dukunglah, bahkan bila dia tidak dapat melukis dengan baik. Walaupun tidak dapat memenangkan lomba, tetapi anak akan terus berusaha untuk lebih kreatif karena mengetahui bahwa Anda mendukungnya.
  3. Ketiga, sediakan fasilitas yang dapat mengasah kreativitas. Fasilitas yang dimaksud antara lain adalah benda-benda yang dapat mengembangkan jiwa seni anak seperti kertas gambar, pensil warna, krayon, gunting, lem, dan kertas lipat. Akan lebih baik jika disediakan suatu ruang khusus yang menyediakan fasilitas tersebut agar anak bebas mewujudkan ide-idenya tanpa takut dimarahi bila dia mengotori dirinya sendiri. Dengan demikian Anda pun tidak perlu khawatir seluruh bagian rumah berantakan.
  4. Keempat, ajaklah anak untuk merasakan pengalaman baru. Luangkan waktu khusus untuk mengajak anak ke tempat yang belum pernah dikunjunginya seperti museum, kebun binatang dan taman rekreasi. Tidak harus menunggu liburan akhir tahun untuk berekreasi, akhir pekan juga merupakan saat yang baik untuk mendapatkan pengalaman baru. Hal-hal baru akan merangsang imajinasi sehingga anak pun akan semakin kreatif. Nah, mudah bukan? Anak menjadi kreatif dan Anda pun senang.

(LYA) Kompas Minggu, 29 November 2009

[+/-] Selengkapnya...

Menuju Tidur Sehat

Bekerja seharian tentu melelahkan. lni tidak rnenimbulkan masalah bila malam harinya kita cukup tidur. Tapi bagaimana bila yang terjadi malah sebaliknya?

Berikut sepuluh cara membantu kita bisa ttdur secara sehat:

  1. Biasakan bangun teratur.
    Bangun teratur setiap pagi membuat tubuh mengatur jam biologisnya sendiri secara alamiah. Jam biologis ini akan secara tepat memberi "alarm" khusus tentang jam bangun dan tidur kita.
  2. Bangun lebih awal. Secara alamiah cahaya terang benderang akan mempengaruhi "alarm" tubuh kita. Cahaya akan memberi instruksi pada tubuh untuk menghentikan sekresi melatonin, yang memberi rasa nyarnan dan nyenyak pada tidur kita. Semakin pagi kita bangun, melatonin akan dilepaskan lebih efektif saat gelap mulai datang kembali.
  3. Jangan berolahraga menjelang tidur. Semua jenis latihan fisik akan meningkatkan metabolisrne tubuh, terutama temperatur. Padahal, rasa mengantuk kita alami saat suhu tubuh turun. Biasanya terjadi antara pkl. 22.00 - 05.00. Sementara aktivitas fisik membutuhkan waktu pendinginan (cooling down). Jalan-jalan ringan umpamanya, membutuhkan waktu 3 - 4 jam agar suhu tubuh memberi "instruksi tidur". Sedangkan aerobik akan membutuhkan waktu lebih lama lagi, sekitar 4 - 5 jam.
  4. Lakukan mandi malam. Ini merupakan cara "kuno" untuk mengubah suhu tubuh. Mandi kira-kira dua jam sebelum tidur akan meningkatkan suhu tubuh. Topi ada cara menyiasati agar temperatur tubuh turun saat hendak tidur, yakni berdiam di dalam bak mandi sekitar 25 menit dan rileks. Ini dapat dilakukan sarnbil membaca atau mendengarkan rnusik. Setelah itu, bila kita berbaring di tempat tidur selama 0,5 - 1 jam, tubuh kita akan sejuk kembali dan sampai tingkat nyaman untuk mengantar kita tidur.
  5. Tidurlah saat merasa lelah. Penelitian membuktikan, lebih pendek waktu yang dibutuhkan untuk tidur nyenyak akan lebih memberi keuntungan bagi tidur kita. Setidaknya, kita tak perlu menghabiskan waktu untuk sekadar berbaring di tempat tidur hanya untuk bengong. Ini berbeda bila kita sudah benar-benar kelelahan. Dalam kondisi lelah, tak sulit bagi kita untuk memejamkan mata lalu tidur dengan nyenyak.
  6. Jangan tidur bila tidak mengantuk. Bila kita tidak segera dapat memejamkan mata setelah 25 menit, segeralah bangun. Pergi ke ruangan lain dan lakukan aktivitas ringan macam membaca, mendengarkan musik, atau menonton televisi. Jangan kembali ke tempat tidur sebelum merasa lelah.
  7. Jangan terpaku pada jam. Bila sudah sampai pada problem sulit tidur, simpan saja jam yang tergantung di dinding. Terbukti, berkali-kali mengawasi jam dinding karena tak dapat tidur justru akan meningkatkan kecemasan.
  8. Hindari aktivitas lain di atas tempat tidur. Tempat tidur adalah tempat untuk tidur! Jangan salahgunakan untuk membaca, menonton televisi, atau mendengarkan radio.
  9. Jangan tidur siang. Larangan ini memang masih kontroversial. Yang pasti, tidur siang dianggap sebagai sumber masalah yang menyebabkan kita sulit tdur malam.
  10. Lakukan relaksasi. Bila perlu lakukan relaksasi atau teknik lain yang bisa membantu kita tidur nyenyak.

Yang tak kalah penting, kurangi konsumsi kafein, terutama setelah makan siang. Penelitian membuktikan, mengonsumsi makanan ringan dari bahan sumber karbohidrat, macam cracker, setengah jam menjelang tidur akan meningkatkan kualitas tidur kita.

(dr. Audrey Luize, di Surabaya)
Intisari, juni 2002, hal 194-195

[+/-] Selengkapnya...

Motivasi untuk Terus Menghadapi Kehidupan

Ada orang yang keadaan hidupnya sangat sulit dan berat. Namun, bukan berarti kita lalu hanya bisa meratapi nasib dan berputus asa karena seperti kata pepatah, "Orang-orang yang hanya bisa mengasihani dirinya tidak akan menghasilkan apa-apa."

"Sebenarnya, saya sudah pernah menulis di rubrik ini belasan tahun yang lalu. Ketika itu saya lelah menanggung beban hidup. Saya pengin tidur, enggak bangun lagi... Lalu saya masuk ke rumah sakit jiwa. Sekarang usia saya 50 tahun. Satu per satu saudara dekat saya meninggal. Ayah meninggal tahun 2001, lalu tahun 2007 Ibu menyusul Kini saya berdua dengan adik laki-laki berumur 4O tahun yangjuga pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Kompleksitas beban psikologis sejak saya TK hingga saat ini telah menjadikan raga saya terganggu kesehatannya. Rasanya gangguan jiwa. telah berganti menjadi sakit jasmani. Saya telanjur tua, takpunya kesempatan untuk mengembangkan diri, menikah, melahirkan keturunan. Dahulu, gangguan jiwa jenis apa pun sepertinya sudah saya alami. Kini, saya tak punya apa-apa dan siapa-siapa, tinggal bersama adik, merawat dia. Saya tidak sering mengeluh lagi. Ada income dari mengontrakkan rumah orangtua, tapi pas-pasan untuk hidup. Rasanya saya hanya menanti ajal, tetapi kadang sering berharap, mantan bos memanggilku mencarikan jalan keluar. Atau, ada pekerja seni yang tahu bagaimana aku berjuang melawan skizofrenia/paranoid, lalu memfilmkannya. Judulnya Berjuang Melawan Skizofrenia. Atau, adakah yang mau membantu saya agar bisa tinggal dipanti wreda? Saya mesti gimana Bu?"
SMS. Jateng


(Jawaban berikut juga saya tujukan bagi mereka yang tak kunjung mendapat pekerjaan atau menderita sakit terminal.)

Kehidupan perlu disyukuri

Saya ikut prihatin atas penderitaan Anda. Memang meng-alami sakit jiwa kronis sangat menimbulkan ketidaknyamanan dalam hidup. Namun, bukan berarti Anda terus-menerus menunjukkan gejala yang berat, bukan? Ada kalanya anda bisa "tenang dan menurun kegelisahnnya". Anda juga masih dapat berpikir jernih dan positif, bah-kan bisa ikut merawat adik yang juga lebih kurang sama kesehatannya.

Sebenarnya, keberadaan Anda sangat berarti bagi adik. Itu sudah memberikan makna mendalam, bukan? Anda masih punya dia, adik pun pasti bersyukur punya kakak yang merawatnya. Mungkin tepatnya, Anda berdua bisa saling merawat dan membina kehidupan seoptimal Anda bisa.

Orang bijak mengatakan, "Jika kita ingin bahagia atau sehat: fokuslah pada apa yang sudah kita punyai, bukan pada apa yang tidak kita punyai".

Atau, renungkan juga ucapan yang mengatakan, "Lebih hebat orang yang berani hidup dari-pada yang berani mati". Artinya, kita perlu mensyukuri semua yang sudah kita peroleh, apakah itu ijazah kesarjanaan Anda, pengalaman kerja, kasih sayang dari seseorang, peninggalan orangtua yang bisa menghasilkan pemasukan, dan lainnya.

Dengan begitu, kita bisa tetap punya semangat untuk melanjutkan kehidupan. Untuk saat ini, saya tak menyarankan Anda masuk panti wreda. Usahakan tetap serumah dengan adik, menjaga dan membina komunikasi semaksimal mungkin dengannya. Minum obat sesuai dengan in-struksi dokter dan hadapi hari esok dengan optimistis.

Motivasi

Kunci utama adalah harus tetap punya harapan, sepahit apa pun hidup ini. Kita perlu me"motivasi diri" agar terus berdaya menghadapi hari esok.

Motivasi adalah suatu kondisi psikologis yang menimbulkan, mengarahkan, dan memper-tahankan tingkah laku tertentu. Motivasi sangat berperan dalam kehidupan dan kegiatan kita. Tanpa motivasi, sulit mencapai perbaikan hidup.

Mengenai keinginan mewujudkan cerita dalam film, saya sangat mendukung. Rajinlah menulis dan mengirimkan kepada orang yang tepat. Kalau belurn berhasil, tak perlu kecewa, pasti ada hikmah lain yang akan Anda peroleh. Bekerja apa pun boleh, asal tidak ngoyo. Usahakan hidup seimbang, tapi santai.

Cara meningkatkan motivasi
  1. Beri ganjaran kepada diri sendiri untuk memperkuat perilaku tertentu. Ganjaran hanya dapat diberikan apabila Anda telah berhasil mencapai sasaran. Misalnya, beri hadiah kepada diri Anda sebagai ganjaran khusus (jalan-jalan ke taman) jika ke-marin Anda tidak mengeluh. Jangan lupa memberikan ucapan "selamaf kepada diri sendiri bila berhasil. Kalau tidak, Anda akan terbiasa menurunkan kebiasaan untuk bersikap riang.
  2. Tetapkan sasaran secara efektif. Berusahalah menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari, bukan menjadi yang sempurna. Motivasi yang efektif menuntut pengarahan terhadap suatu tujuan. Tujuan yang lebih rinci, realistis, dan berada di ba-wah kendali kita cenderung memunculkan usaha yang lebih besar daripada tujuan yang terlalu umum. Misalnya, "saya ingin selama tiga hari ke depan tidak mengeluh tentang kondisi adik" atau "malam hari saya akan berdoa mengucap syukur atas keberhasilan saya membereskan rumah".
  3. Aturlah lingkungan. Cermati dan kenali diri Anda sebaik-baiknya, apakah Anda tipe mudah sedih atau mudah marah. Maka, aturlah lingkungan fisik, misalnya ganti cat ruang tidur dengan warna yang bisa meredam emosi Anda. Seringlah memasang musik yang lembut dan menenangkan. Pergilah ke mal atau berkunjung ke rumah teman sejauh itu bisa menghibur perasaan yang gundah.
    Selamat berjuang terus.

Agustine Dwiputri, psikolog
Kompas, Minggu 22 November 2009

[+/-] Selengkapnya...

Bernilaikah Saya?

Suatu malam setelah bekerja seharian, saya kelaparan. Hari itu mulut dan perut ingin dikenyangkan dengan makanan ala Indonesia. Maka saya memilih sebuah waning di mal. Yaah... waning sekarang bisa berdiri di mal. Makanan ndeso ma-suk pasar papan atas. Harganya tentu beda. Mereka menjual makanan rakyat dengan harga setinggi langit, dengan dekor dan pernik perlengkapan makanan-nya murah meriah. Mau dikatakan itu tidak adil... saya sendiri saja tak tahu adil itu artinya apa. Apalagi tidak adil.

Saya memilih tempat duduk di luar, bisa memerhatikan gaya orang lalu lalang berjalan, gaya mereka berdandan. Belum lagi kalau memergoki gaya beberapa pribadi kondang yang acap kali muncul di pasar rakyat papan atas itu. Biasanya, pemandangan semacam itu memancing diskusi dengan teman-teman. Maksudnya, membicarakan kekurangan orang lain.

Pertanyaan 1

Malam itu saya tak berniat melihat manusia yang bergerak karena terburu terpukau kalimat dalam poster sebuah bank yang sedang berpromosi, tepat di depan warung rakyat itu. Kalimat-nya berbunyi begini, "Apa yang membuat orang berdatangan ke cabang ... (nama banknya)? Gratis bensin, voucher, koin emas".

Waktu pertama membacanya, saya hanya berkata, oh... oke juga ya, Kemudian saya melanjutkan menikmati soto mi dan empek-empek palembang. Tetapi, setiap kali saya mau menyendokkan makanan itu ke dalam mulut, kepala saya mendongak dan sekali lagi membaca tulisan itu. Kejadian itu berlangsung sampai makanan lezat itu tuntas di piring yang jauh dari kesan piring mewah. Karena berkali-kali membaca, lama-lama timbul sebuah pertanyaan. Tidak kepada bank itu, tetapi kepada diri sendiri.

Pertanyaan begini, apa yang membuat orang berdatangan ke tempat saya? Apa yang membuat orang mau berteman dan atau berbisnis dengan saya? Sampai di situ saya berhenti berdiskusi dengan kepala sendiri karena ada komentar-kornentar yang ternyata lebih menarik soal manusia yang berseliweran keluar dari mulut teman-teman di seputar meja makan. Padahal, malam itu saya sudah tak berniat mendengar celoteh karena kelelahan. Tetapi, harus diakui, kalau lagi kelelahan, percakapan ringan-ringan kurang ajar itu sedapnya mirip dengan makanan yang saya santap.

Pertanyaan 2

Saya lalu pulang ke rumah. Pertanyaan setelah melihat poster tadi muncul kembali, padahal saya sempat melupakannya. Saya ulangi lagi pertanyaan yang sudah saya ajukan saat makan di waning ndeso dengan harga kota itu. Setelah sekian menit, saya tak mendapat jawaban, tetapi malah timbul pertanyaan baru.

Pertanyaannya begini. Kalau saya memisalkan diri sendiri adalah bank, bukankah seharusnya orang mendatangi saya karena layanannya terbukti prima, karena staf saya sangat membantu dan tak hanya mengerti produk yang dijual, tetapi juga mampu menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kemampuan finansial calon nasabah sehingga nasabah baru tak perlu khawatir menanam uang di tempat saya?

Bukankah sebagai bank saya harus mampu membuat nyaman nasabah dan calon nasabah, bukan hanya karena interior kantor yang oke, tetapi juga karena staf yang gesit, yang mengerti waktu adalah uang dan menunggu adalah neraka. Selain gesit, mereka juga memiliki keramahan yang bukan karena diberi pelatihan, tetapi keramahan dari hati.

Dan, calon nasabah datang bukan karena diiming-imingi sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan nilai dalam diri saya sebagai institusi. Bukankah seharusnya yang dijual nilai dari dalam, bukan yang sekadar di luar? Katanya yang bernilai itu yang tak lekang waktu karena akan menciptakan loyalitas dan pada akhirnya menciptakan pemasukan?

Atau, zaman sekarang menjual nilai sudah tak penting-penting amat? Apakah tak lekang waktu itu sudah terialu kuno? Pertanyaan saya tak terjawab, malah diakhiri dengan pertanyaan baru lagi. Kalau saya tak member! bensin gratis atau koin emas, apakah calon nasabah tertarik datang? Atau, saya sajayang memiliki cara pandang calon nasabah saya sekarang hanya senangnya diiming-iming semata tanpa perlu diedukasi dengan nilai?

Pertanyaan 3

Contoh tadi adalah saya berandai-andai menjadi bank. Bagaimana kalau saya adalah saya sendiri. Bukankah seharusnya saya didatangi orang karena mereka melihat nilai di dalam saya, bukan "aksesori" di luar itu? Nilai itu adalah saya manusia yang bisa dipercaya; kalau orang berteman dan berbisnis, saya adalah orang yang berkomitmen dan tak menjadi pengkhianat. Bukan hanya karena saya punya koin emas seperti pamannya Donald Bebek.

Nurani saya malam itu juga tak bisa tidur. Saya pikir kalau saya kenyang, nurani ikut kenyang. Saya lupa kenyang itu urusan perut, nurani itu urusan jiwa. Maka, si jiwa itu berbisik. Mungkin karena tahu sudah pukul satu pagi, ia berbisik meski nyelekitnya sama saja." Gue mau nanya. Kalau lo sendiri berteman dengan seseorang, itu karena apa?"

Hari sudah lewat tengah malam, saya mengantuk sekali. Mau pura-pura tak mendengar nurani, tidak mungkin. Mau pura-pura tak mengerti bahasa Indonesia, lebih tak mungkin lagi. Maka, saya diam saja, tetapi tak bisa tidur, Biasanya kalau tak bisa tidur, saya menghadap Sang Pencipta dan umumnya berhasil tertidur.

Malam itu saya memutuskan melakukan hal yang sama. "Tuhan, ampuni karena saya berteman dengan alasan perlu networking, sebetulnya sih males banget sama manusianya. Tuhan, maafin kalau saya ini berteman karena dia kaya banget, teman-temannya oke, lumayan buat gengsi dan recognition. Bapaknya juga pejabat. Tuhan, ampuni karena tadi ada yang naksir dan jeleknya minta ampun, tetapi dia udah nanya-naya mau apa untuk hadiah Natal. Maaf Tuhan, saya enggak suka, tetapi hadiah Natalnya itu Iho. Jam tangan, bepergian keliling dunia, atau tas dari kulit buaya. Tadi saya bilang, mau tiga-tiganya. Karena kalau bepergian, kan perlu jam dan tas. Maapin, maapin, Tuhan."

Coba...
(Kilas Parodi)

  1. Anda menanyakan ulang, kalau Anda membuka account di sebuah bank itu karena alasan emosional atau rasional?
  2. Anda menanyakan ulang, kalau memiliki lima belas kartu kredit itu karena alasan emosional atau rasional?
  3. Anda menanyakan ulang, kalau sekarang ini Anda pacaran itu karena alasan takut sendiri atau memang kebutuhan?
  4. Anda menanyakan ulang, kalau menikah itu karena alasan jatuh cinta benar atau karena pasangan Anda mampu membuat Anda keliling dunia setiap musim, membawa koper dan tas dari kulit buaya, serta jam tangannya hanya dimiliki segelintir manusia di dunia. Coba Anda jabarkan, apa sih yang sesungguhnya dimaksud dengan 3 B itu? Bibit, bebet, dan bobot, maksud saya. Bukan big, bold, and beautiful.
  5. Anda menanyakan ulang, kalau Anda memalingkan muka saat berpapasan dengan teman sendiri itu karena sedang sebal dan menjatuhkan kekesalan itu kepada orang lain atau Anda memang aslinya manusia pongah? Tanyakan juga kepada diri sendiri, mengapa harus pura-pura menelepon seseorang dengan BB atau telepon genggam hanya untuk menghindari orang yang berpapasan dengan Anda?
  6. Anda menanyakan ulang, kalau Anda menjadi pengkhianat dalam perkawinan atau dalam urusan bisnis sekarang apakah karena nilai-nilai menjadi pengkhianat sudah diajarkan turun-temurun atau Andanya sendiri saja yang memang punya niat kurang ajar?
  7. Anda menanyakan ulang, kalau Anda berbuat baik, dikenal sebagai pribadi yang baik dan menyenangkan, apakah karena sifat asli Anda atau Anda merekayasa karena memiliki agenda tertentu? Sama pertanyaannya kalau Anda mengikuti organisasi, politik, sosial, keagamaan, atau apa pun, apakah karena Anda merasa nilai-nilai dalam organisasi itu sesuai dengan nurani Anda dan Anda merasa itu benar adanya atau karena ketua dan sebagian besar anggotanya bisa menjanjikan masa depan cerah ceria untuk aktivitas Anda?
  8. Anda menanyakan ulang, mumpung hari libur, apakah Anda bisa disebut manusia yang mempunyai nilai untuk dibanggakan diri Anda, keluarga, dan masyarakat atau tidak sama sekali?

Samuel Mulia
Kompas Minggu, 22 November 2009, hal 13

[+/-] Selengkapnya...